Rabu, 28 November 2012

Ini Hariku..

Selamat Ulang tahun, sayank...


kali ini aku tak ingin menangis sedih. tak juga ingin dikasihani. aku hanya ingin menikmati hari ini dengan bahagia. ini hariku. Ini adalah pintu gerbang menuju kehidupanku berikutnya. tetap tenang dan jangan ragu-ragu dalam melangkah.

Jalanmu masih panjang, sayank..
kau tak perlu khawatir, Allah sudah menyiapkan kompas dan peta penunjuk arah untuk perjalanmu berikutnya. Terserah mau kau gunakan atau tidak, tapi yang pasti semua ada resiko. jika tersesat, jangan salahkan Allah atau siapapun! karna sebenarnya kau sudah punya bekal, tapi tak kau gunakan.
Oke. Selamat menempuh perjalanan panjang, sayank.. hati-hati!
yaqin Allah selalu membuka jalan untuk langkahmu!

Senin, 26 November 2012

Jatuh Cinta pada Namamu

Angin berlalupun tak mampu memberikan jawaban ‘mengapa aku masih mencintaimu?’. Mungkin karna parasmu yang tampan, karismamu yang hebat di mata umum, ilmumu yang mumpuni, karyamu yang indah lagi membanggakan, kegilaanmu yang memang cocok denganku atau aku hanya menuruti nafsuku? Aku tak tau!


Atau mungkin aku mencintaimu karena namamu?? Iya! Mungkin karena kau menyandang nama itu. Buktinya hatiku selalu bergetar ketika mendengar nama itu disebut atau menemukannya pada sebuah bacaan. Mungkin kalau kau berganti nama, aku tak akan mencintaimu lagi. Mungkin.

Senin, 12 November 2012

Rindu Wonosobo

DIENG. Sebuah nama yang masih menjadi PR-ku dalam perjalanan penjelajahanku (istilah keren untuk sebuah hobby yang bernama ‘kluyuran’). Tak hanya sekali aku mendengar cerita seru teman-teman tentang keindahan tempat wisata itu. Hufh.. kembali lagi aku harus menelan ludah untuk menahan hasrat pergi kesana, karena kesempatan yang belum mendukung (baik kesempatan waktu atau biaya ^.^). Telaga warna yang menawan, kawah berkabut yang menakjubkan membuatku semakin berangan-angan berada di sana.



Hawa dingin pegunungan yang khas menurut cerita teman-teman, membuat badan tak mau lepas dari pelukan jaket tebal. Seperti apa dinginnya aku tak bisa membayangkan, samakah seperti dinginnya hawa di puncak gunung Merbabu? Baru sekali aku ikut mendaki, padahal sudah lama sekali keinginan itu ada.

Dieng hanya salah satu diantara keajaiban alam di daerah yang masih asing bagiku, Wonosobo. Kota ini membuatku sangat penasaran. Entah karena pariwisata dan keindahan yang dipunyainya ataukah karena di sana adalah tempat tinggal orang yang istimewa di hatiku. Aku tak tahu, tapi rasanya aku sudah mulai jatuh cinta pada kota ini, meskipun aku belum pernah menginjakkan kaki di sana. Yang pasti, aku punya mimpi akan tinggal atau sekedar menginjakkan kaki di sana.

Kota dengan plat kendaraan diawali dengan huruf AA dan diakhiri dengan huuf F atau P ini benar-benar menyihirku. Aku selalu ingin tahu tentangnya. Tentang daerah-daerahnya, pariwisatanya, pegunungannya dan lain sebagainya.

Aku iri padanya-Wonosobo. Engkau sangat mencintain kota ini.. Aku iri..
kita akan berjumpa lagi di sini bersama anak2 kita. InsyaAllah
2012

Rabu, 31 Oktober 2012

Aku datang, Yem..


Alam raya pun semua tersenyum
menunjuk dan menyapa hadirnya
terpukau aku menatap wajahnya
aku merasa mengenal dia
tapi ada entah di mana
hanya hatiku mampu menjawabnya



kaget bukan kepalang..!
sumpah aku kaget. tak menyangka dan tak menduga. Ini sangat berbeda dengan imajinasiku sebelum-sebelumnya. Lebih indah..

Dua hari yang lalu aku kembali ke Jogja, kota yang sangat indah dan ramah di hatiku. kota yang mengajakku menciptakan imajinasi-imajinasi hebat untuk hariku. Kota yang masih tetap berhati nyaman meski goncangan modernisasi dunia telah mewabah. Malam itu aku datang (29/10) langsung membuka ponsel, 10 pesan masuk. Dengan badan menggigil karena kehujanan sepanjang perjalanan Blora-Jogja, jari-jariku dengan gemetar mulai membuka pesan-pesan itu. kulihat beberapa nama pengirim, ku pilih yang paling membuatku senyum.. hehe.. meskipun tempatnya bukan paling atas. isinya begini "Jogja mendung, atau hujan?".. hemmmh aku aja baru nyampe Jogja, sms-nya sudah 3 jam yang lalu. ku jawab apa adanya, "mboten, tapi kayaknya hbiz hujan. Ad' bru nympe Jogja". "oh ya" jawabnya singkat. memang dia tak pernah suka basa basi, selalu apa adanya. Tak pernah mencoba menutupi hal yang kira2 membuatku tersinggung dengan kata2 yang halus. Pernah suatu ketika saat aku mencubit pinggulnya, dia biasa aja, tak berreaksi apa2, kemudian ku tanya "kok Mz gk geli??", ringan banget jawabnya "Lha Ad' elek og.." gubrak..! haduh ini orang gak ada romantis-romantisnya.. hemmfhh
karna di mitos Jawa bahwa orang yang suka geli bila digelitik'in, itu tandanya pasangannya nanti cantik atau cakep. pun sebaliknya.. huft.. Apa adanya banget jawabannya :(, tapi aku tetep suka.. ^.^

Hari pertama di Jogja, aku sibukkan diriku dengan kegiatan rutinku di hari selasa. Sebuah tugas mulia, Guru. hehe.. Pengirim pesan semalam, mengirim pesan lagi dan seperti biasa, jutek. ahh masa bodoh.. sudah biasa pikirku.

Malam kedua kuhabiskan dengan mengerjakan sesuatu yang selalu tertunda, REVISI SKRIPSI. duh deadline sudah di depan mata. sebenarnya aku sudah terlelap lebih sore, tapi tengah malam aku bangun dan mencoba mengerjakan tugasku itu sampai shubuh. Kemudian tidur lagi sampai jam 6, hehe karena lagi gak mau sholat.. ^.^

Bangun jam 6 langsung kupegang Laptop lagi yang masih menyala sedari malam tadi, mulai kerja lagiiiiii..
huft.. panas banget pagi ini. mau minum air galon habis. Aku meminta teman kost untuk pesen galon lewat sms. Baru saja sms terkirim, ada suara dari depan "Assalaamu'alaikum..", sepertinya seorang tamu laki2 dari suaranya. seorang teman memanggilku, "nik, ada orang tuh", hemmm.. apa mungkin tukang galon? cepet sekali pikirku. dengan rasa penasaran aku pun keluar dan melihat orang yang ada di depan rumah.

ngeek......... suara pintu kostku,
Ku lihat dengan seksama orang yang sedang berada di depanku, wajah yang tak asing dengan masih mengenakan helm. MasyaAllah..! Kaget bukan main, kulihat wajah berkacamata itu.. langsung terlontar dari mulutku karna kaget, "Mz..." ya Allah.. yang datang tamu tak diundang, namun selalu dinanti oleh hati.. hehehe bisa dibayangkan perasaanku saat itu.. he

SURPRIIIIISE...!!
hehe.. ternyata tadi sudah kirim pesan, tapi HP ku mati. hemm kalo gak mati, gak jadi surprisse lah.. hehe trimakasih..:)

banyak cerita, banyak tawa, banyak tanya, diskusi dan berdialektika.
tak ada alasan untuk tidak tertawa jika sedang bersama..
Lebih ceria, lebih terbuka, lebih baik dan lebih dialektis dari sebelumnya.
trimakasih Yem, sahabat juga kekasihku.

Selasa, 23 Oktober 2012

FATHIMAH; Si Buruh Setrika



Fathimah nama gadis itu. Entah Siti Fathimah, Fathimah Azzahra atau siapa aku tak tahu pasti. Kalem, ramah dan sopan perangainya. Sangat cocok dengan nama yang disandangnya. Terlihat manis dan ayu wajah yang dibalut dengan jilbab kuning gading sore itu. Seorang buruh setrika sebuah keluarga kaya di daerah Kulon Progo DIY. Sekarang dia duduk di kelas XI IPA di salah satu sekolah Negeri di Kecamatan Kalibawang Kulon Progo.

Sore itu aku sedang menunggu sepupuku yang tinggal di rumah keluarga ‘tuan’ si gadis itu. Aku duduk di serambi rumah dekat tempatnya menyetrika. Aku mengganggunya dengan obrolan kami yang seolah-olah sudah kenal cukup lama, padahal baru beberapa menit yang lalu aku menyapanya yang sedang sibuk menyetrika setumpuk pakaian.

Obrolan kami mengalir begitu saja, mulai dari perkenalan sampai yang lainnya. aku menangkap sebuah semangat besar untuk belajar yang ada dalam dirinya. Terlihat ketika dia mulai banyak tanya tentang perguruan tinggi dan sangat antusias mendengarkan jawabanku. Sambil sesekali menyemprotkan pewangi dan menggosok-gosokkan setrikanya dia bertanya dan terus mencari bahan untuk perbincangan kami.
Kuperhatikan dalam-dalam tingkahnya, dia benar-benar menikmati kerjaannya itu.

Dia mulai ‘bekerja’ menjadi buruh setrika sejak kelas X. Ini dilakoninya lantaran kebutuhan ekonomi keluarga yang kurang. Dia anak ketiga dari lima bersaudara. Di tempat pegawai TU di sekolahnya itulah dia mencoba mencari rizki dengan menjadi buruh setrika untuk membantu ekonomi keluarganya. Terkadang bukan hanya menyetrika yang lakukannya di rumah itu, dia juga menyapu halaman rumah yang penuh dengan pohon di sebelah kanan dan kirinya. Hemmfh.. betapa lelahnya dia jika musim kemarau datang dan daun-daun kering berjatuhan.

Dia bukan hanya pandai dalam pelajaran, dia juga aktif dalam kegiatan ekskull. Kalo aku boleh memberi predikat, dia adalah siswa ideal. Ini hanya pandanganku yang aku simpulkan berdasarkan obrolan singkat kami waktu itu. Tidak setiap hari dia datang untuk menyetrika, dia hanya datang setelah sekolah jika tak ada ekskull. Jadi, dapat ilmu dari sekolah, ekstra, tambahan ekonomi dan pengalaman kerja pun ia dapatkan.
Perbincangan kami seputar perguruan tinggi pun tak putus cuma sebentar. Dia selalu punya pertanyaan untuk menghidupkan obrolan kami. Dan aku pun dengan ‘sombong’ dan ‘sok tahu’-ku menjelaskan panjang lebar tentang dunia perkuliahan yang sudah pernah aku lakoni.
“Bayar pinten mbak nek awal masuk?”, dengan bahasa krama inggil dan suara lirih yang hampir tak terdengar olehku karna halusnya. Aku tersenyum dan kemudian menjawab seadanya tanpa melebih-lebihkan. Aku berharap dia tidak berkecil hati untuk tetap memegang semangatnya lanjut ke jenjang perkuliahan jika sudah lulus nanti. Aku terus memberikan motivasi agar semangatnya tak surut hanya karena ekonomi keluarga yang sangat kurang.

Gusti.. betapa sangat kurang bersyukurnya diriku dengan keadaan yang seperti ini, masih beruntungnya keadaanku dari pada gadis itu.
Trimakasih Fathimah, bertemu denganmu saat itu memberiku waktu untuk berfikir dan merenung, meski kau tak pernah sengaja. Memberiku pesan agar tak selalu melihat ke atas dalam hal keduniaan. Semoga kebahagiaan selalu memihakmu. Percayalah Fathimah, semua akan indah pada waktunya. Jerih payahmu saat ini, tak akan sia-sia.

Di Meja kerjaku, Wonosari 23 Oktober 2012

Senin, 17 September 2012

Menulis; untuk siapa??

"aku mau belajar menulis, karna ku tau kau seorang penulis!"
apa benar karna ini?



Tak tau karena apa dan siapa. Dulu aku tak begitu suka ketika diberi tugas menulis atau mengarang oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sudah lama aku belajar untuk bisa menulis, tapi entah apa yang aku tulis beberapa waktu yang lalu. Tiba-tiba aku jadi seolah seorang pujangga yang menciptakan kata-kata indah dan romantic.. karena siapa aku bisa ciptakan itu? Karena siapa?
Tapi aku masih egois, aku hanya bisa menulis sesuatu untuk diriku sendiri, untuk orang lain, aq belum bisa. Aku menulis hanya untuk ungkapan hatiku. Ketika aku merasa resah atau senang, sakit atau behagia, nah!! Saat itulah naluriku berubah menjadi naluri seorang pujangga.
Inginku ini tiba-tiba saja timbul. Apa mungkin karena dia seorang penulis??? Apa mungkin itu alasan yang tepat untuk ku?
Aku mengagumi seseorang dari dan karena tulisannya. Mungkin mulai dari itu, aku selalu berusaha untuk bisa menulis seperti seseorang itu. Entah ada angin apa tiba-tiba aku tersihir untuk punya keinginan bisa menulis. Tapi sudah kubuktikan, ketika hati sedang galau dan kita tidak memiliki tempat beradu yang kita percaya, maka tulisanlah solusinya. Apalagi untuk tipe orang introfet seperti aku ini.
Tetap saja tulisanku tak ada maknanya di mata orang lain, karena hanya aku yang bisa memaknainya. Sekali lagi, aku belum bisa menulis untuk kebaikan orang lain, masih untuk kubaca dan kumaknai sendiri.
Terkadang aku tersiksa dengan rasa iri dan minder ketika seseorang yang saat ini ada di hatiku adalah seorang yang sangat gemar menulis, tulisan-tulisannya indah dan bermakna. Dia selalu menciptakan dan merangkai kata-kata ungkapan hatinya. Tapi tak tau, tak pernah ada yang dia persembahkan untukku. Padahal hampir semua tulisanku di sini karena dia. Mungkin rangkaian kataku terlalu jelek dan tak bisa difahaminya sehingga dia tak merasa. Atau memang tidak dirasa??
Aku ingin mengimbanginya, aku mulai suka menulis, entah apapun itu. Tapi tak pernah bisa indah seperti dia. Selalu kupaksakan diriku untuk belajar, tapi ternyata menulis bukan kerjaan yang harus dipaksa. Menulis perlu keikhlasan dan kelapangan hati, itu yang aku fahami. Aku ingin belajar lagi, bukan untuk menyeimbanginya, untuk diriku.
Perbedaan tak untuk diseragamkan bukan?? Tapi diselaraskan. Seharusnya aku tak perlu memaksakan diri untuk menjadi seperti yang dia suka. Aku hanya perlu menyelaraskan apa yang aku bisa dengannya.

(Kota berhati nyaman, 14-15 November 2011)
Jadi diri sendiri itu lebih nyaman.

Rabu, 21 Maret 2012

Merangkai Huruf


Selamat pagi, pagiku yang selalu indah seperti sebelumnya..
Pagi ini, aku berjalan melewati tempat yang sudah tidak asing bagiku, bertemu dengan seorang teman yang beberapa waktu lalu baru kukenal, wajah yang ramah itu masih tersimpan di benakku, dia berdiri dari duduknya, berjalan mendekatiku seraya tersenyum. Sepertinya dia memang sedang menunggu kedatanganku, padahal aku tak pernah punya janji untuk bertemu dengannya hari ini. Dia menyapaku dengan salam, akupun membalasnya. Sepertinya dia sedang buru-buru hendak pergi. Tanpa basa basi dia menyodorkan padaku lima kertas berukuran kartu remi. Masing-masing bertuliskan satu huruf. dia memintaku menyusun kelima huruf tadi menjadi sebuah kata yang bermakna. Setelah itu dia pergi begitu saja dan berjanji akan menemuiku beberapa hari lagi di tempat yang sama. Sambil menorehkan senyum di bibirnya, ia berjalan menjauhiku.
Aku masih tetap memperhatikan temanku tadi hingga dia berlalu dari pandanganku. Aku masih bingung dengan kertas ini. apa maksudnya dengan memberi kertas ini?? ah sudah lah.. mungkin dia ingin bermain-main saja. Akh!!! Aku baru ingat, dia pernah berkata akan memberiku tebakan yang menantang di awal perkenalan kami.. dan ini mungkin yang ia maksud. Oke! Sambil berjalan ku buka masing-masing kertas itu, pada kertas pertama tertuliskan huruf M, kedua huruf R, ketiga huruf A, keempat huruf D dan terakhir huruf A lagi. Kemudian kumasukkan kertas-kertas tersebut ke dalam tas dan melanjutkan perjalananku.

         


petangku..
Aku teringat temanku pagi tadi. Kubuka tas dan kukeluarkan kertas-kertas pemberiannya. Diam sambil berfikir kutata kertas itu di atas meja belajarku. Kuputar-putar posisi kertas satu dengan yang lainnya. Aku masih ingat kata-katanya. “menjadi kata yang bermakna!” . itu kata kuncinya.. aku terus berfikir dan mencoba menelisik. Sambil membuka kamus bahasa Indonesia aku tetap mencari kata yang tepat dan bermakna. Hmm.. cukup menantang. Dan akupun hanyut dalam keseriusan mencari kata yang ia maksud.
Setelah beberapa lama mencari, yah!! aku dapatkan satu kata!
DRAMA, bermakna sebuah wadah untuk bermain peran dan berekspresi. Belajar memahami posisi seseorang yang menjadi perannya. Mencoba meninggalkan keegoan diri dengan menjadi orang lain dalam sebuah sandiwara. Akan banyak pengalaman dan pelajaran.

Ahh.. benar. Ini mungkin yang dimaksud temanku itu.
Tapi aku masih yaqin ada kata lain yang bermakna yang akan tercipta dari kelima huruf tersebut. Kucoba lagi merenung dan berfikir sambil sesekali membuka kembali kamus bahasa Indonesia di depanku. Kubolak balik lembar demi lembar, tak kutemukan juga. Huft..
Yak!! Satu lagi kudapatkan
DARMA, sebuah makna pengabdian dan pemberian secara ikhlas. Mengajarkan pada kita untuk selalu ridlo dalam melakukan atau memberikan sesuatu. Dan semua akan ada buahnya, katanya man manna min mannin munna min mannihi.

Uhuuuy.. aku berhasil dapat dua kata, teman.. maknanya bagus semua. Hmm.. sambil tersenyum ku tumpuk lagi kertas-kertas itu. Tapi kemudian kuhentikan. Aku semakin penasaran dengan huruf-huruf ini. aku yaqin masih ada kata lagi yang bermakna dari susunan huruf-huruf ini.
Kuputar kembali posisi kertas itu. Tak dapat juga kata yang bagus..
nah!!! Dapat! DAMAR! Bagus sekali… tapi apa artinya?? Kucoba membuka kamus bahasa Indonesia. Kata itu berada tepat di bawah kata DAMAI..
DAMAR, Sebuah kata klasik yang banyak maknanya. Kuambil makna yang paling pas dan sering digunakan. Merupakan sebutan untuk lampu yang mampu menyinari. Saat malam gelap, saat bulan tiada tampak untuk memberi cahaya, dia pengganti bulan itu, untuk menyinari jalan dalam gulita.



Cihuyy..!! aku dapat lagi! Wah.. 5 huruf ini menjadi tiga kata yang begitu bermakna.. indah semuanya. Trimakasih teman, kau membuatku berfikir tentang hidup ini. hanya karena lima huruf.

‘Hidup kita bagaikan sebuah drama. Di dalamnya kita adalah seorang actor yang harus berperan dan beradegan sesuai dengan scenario yang sudah ditetapkanNya. Dalam sandiwara drama ini, ada beberapa setting waktu, terang hari dan Petang hari.. kala terang hari, kita bisa berjalan sendiri tanpa harus ada yang menuntun kita. Tapi di kala petang hari, ketika akan melanjutkan perjalanan, kita tak akan mampu melihat jalan di depan mata. Sehingga kita butuh damar dariNya untuk menerangi jalan kita yang masih gelap. Pada saat itu pula kita tak mungkin bisa berjalan sendiri. Kita butuh orang lain, kita harus saling berdampingan dan mampu mendarma satu sama lain. Dengan begitu, hidup kita akan terasa indah.. Jalan kita menjadi terang. Benar kata orang-orang suci, bahwa memberi itu terangkan hati, dengan kata lain “mendarma itu damarkan hati”. Dan peran kita dalam drama ini pun akan sempurna..

>>Yogyakarta, 18 Maret 2012, 0:01 WIB
(terinspirasi dari nama laqob seseorang_seorang laki-laki yang sangat aku hormati dan aku cintai setelah Nabi, Keluarga dan guruku. Semoga bermanfaat! Hahahahaha.. Tapi tak bisa indah seperti karyanya. Ssstttt… Aku hanya belajar diam-diam darinya.. trimakasih Mz) 